Ambon adalah wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam membangun kembali harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakatnya. Keberhasilan menjaga kedamaian di ibu kota Maluku ini tidak terlepas dari peran aktif aparat keamanan yang menggunakan pendekatan non-militeristik dalam meredam potensi konflik. Melalui konsep sosiologi damai, Polres Ambon menerapkan metode pengamanan yang berakar pada pemahaman mendalam tentang struktur sosial, adat istiadat, serta nilai-nilai kearifan lokal. Fokus utamanya adalah bagaimana menciptakan ketertiban umum melalui dialog yang tulus dan penguatan ikatan persaudaraan antarwarga yang memiliki latar belakang berbeda.
Pendekatan ini berawal dari kesadaran bahwa konflik horizontal sering kali dipicu oleh misinformasi dan prasangka yang tidak terkendali di tingkat akar rumput. Oleh karena itu, pendekatan komunitas yang dilakukan oleh kepolisian di Ambon melibatkan kehadiran personil di tengah-tengah kehidupan harian warga. Polisi tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai fasilitator komunikasi yang netral. Mereka secara aktif terlibat dalam kegiatan adat, keagamaan, hingga gotong royong warga. Hal ini bertujuan untuk meruntuhkan sekat-sekat kecurigaan dan membangun kepercayaan publik bahwa polisi adalah mitra masyarakat dalam menjaga perdamaian.
Dalam upaya jaga stabilitas, Polres Ambon mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak dalam mendeteksi gesekan sosial sejak dini. Setiap ada permasalahan kecil di tingkat desa atau kelurahan, polisi mengedepankan musyawarah mufakat dengan melibatkan tokoh adat (Latupati) dan tokoh agama. Strategi ini sangat efektif karena masyarakat Maluku sangat menghormati otoritas tradisional dan nilai “Pela Gandong”. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam sistem pengamanan modern, kepolisian berhasil menciptakan rasa memiliki yang kuat di kalangan warga terhadap perdamaian yang telah mereka bangun bersama selama bertahun-tahun.
Sosiologi damai juga diterapkan melalui program-program edukasi bagi generasi muda di Ambon. Kepolisian menyadari bahwa masa depan perdamaian ada di tangan remaja yang saat ini sangat rentan terhadap pengaruh negatif dari media sosial. Melalui diskusi kelompok dan literasi digital, siswa diajarkan untuk menjadi agen perdamaian di lingkungannya masing-masing. Mereka diajak untuk memahami bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan alasan untuk berselisih. Inisiatif ini merupakan langkah preventif jangka panjang untuk memastikan bahwa benih-benih konflik tidak lagi mendapatkan tempat untuk tumbuh di bumi raja-raja.
