Psikologi di Ruang Interogasi: Cara Polisi Mengatasi Trauma Saksi Agar Tetap Kooperatif

Bagi korban atau saksi yang baru saja mengalami peristiwa traumatis, Ruang Interogasi dapat terasa seperti perpanjangan dari peristiwa kejahatan itu sendiri. Tekanan psikologis, ketakutan, dan flashback dapat menghambat kemampuan saksi untuk memberikan keterangan yang akurat dan kooperatif. Oleh karena itu, aparat kepolisian modern tidak lagi mengandalkan metode interogasi yang agresif, melainkan menggunakan pendekatan psikologis yang berpusat pada trauma (trauma-informed approach). Mengelola wawancara di Ruang Interogasi dengan empati adalah kunci untuk mengatasi mekanisme pertahanan psikologis saksi. Tujuan utamanya adalah Ruang Interogasi menjadi tempat yang aman dan suportif, sehingga memori yang terdistorsi akibat trauma dapat direkonstruksi secara bertahap dan sah.


Memahami Respons Trauma dalam Memori

Stres akut yang dialami selama peristiwa kejahatan memengaruhi cara otak merekam memori. Respons fight-or-flight dapat menyebabkan memori menjadi terfragmentasi atau tidak terurut. Ketika dibawa ke Ruang Interogasi, saksi bisa mengalami:

  • Dissociation: Merasa terputus dari realitas atau dari peristiwa tersebut.
  • Amnesia Selektif: Sulit mengingat detail tertentu, terutama yang paling traumatis.
  • Hyperarousal: Kondisi tegang, mudah terkejut, dan kesulitan fokus.

Penyidik yang menerapkan pendekatan berbasis trauma dilatih untuk mengenali sinyal-sinyal ini dan tidak menafsirkannya sebagai upaya menyembunyikan informasi.


Strategi Wawancara Berbasis Trauma

Polisi menggunakan teknik khusus untuk memastikan saksi merasa dihormati dan memegang kendali atas proses wawancara, sehingga meningkatkan kooperatif:

  1. Ciptakan Lingkungan Aman: Pastikan Ruang Interogasi memiliki pencahayaan lembut, suhu yang nyaman, dan tidak ada gangguan. Saksi diberi pilihan posisi duduk dan jeda istirahat kapan pun mereka butuhkan.
  2. Membangun Hubungan (Rapport): Mulai wawancara dengan topik netral dan menunjukkan empati. Petugas harus menyatakan bahwa kegagalan mengingat detail adalah hal yang normal bagi korban trauma.
  3. Wawancara Kognitif: Menggunakan pertanyaan terbuka dan mendorong saksi untuk menceritakan kisah mereka tanpa interupsi, yang membantu memori terorganisir kembali secara alami.
  4. Kontrol dan Pilihan: Saksi selalu diberikan pilihan, seperti kapan memulai, kapan mengakhiri, atau detail apa yang ingin mereka ceritakan terlebih dahulu. Mengembalikan rasa kontrol membantu meredakan trauma.

Pelatihan Khusus dan Dukungan Institusi

Penggunaan teknik wawancara berbasis trauma ini bukan hanya etika, tetapi juga standar profesional. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) melalui Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) kini bekerja sama dengan psikolog forensik.

Pusat Pendidikan Reserse (Pusdik Reskrim) Polri telah menjadikan modul Trauma-Informed Interviewing sebagai pelatihan wajib, terutama untuk penyidik yang menangani kasus kekerasan seksual dan anak. Pelatihan ini diperkuat oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang terakhir mengadakan sosialisasi standar wawancara anak trauma pada hari Selasa, 3 Desember 2024.

Selain itu, untuk menjamin privasi dan kerahasiaan saksi dan korban, Ruang Interogasi untuk kasus sensitif sering kali dilengkapi dengan teknologi perekaman yang aman dan terbatas aksesnya, sesuai dengan protokol perlindungan data hukum.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa