Keamanan diri atau self-defense kini bukan lagi keterampilan khusus, melainkan sebuah kebutuhan dasar di tengah dinamika kehidupan perkotaan. Dalam upaya mewujudkan keamanan yang berkelanjutan, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) melalui Bhabinkamtibmas gencar menyelenggarakan Pelatihan Self-Defense sebagai bagian esensial dari Program Pembinaan Masyarakat. Program Pembinaan Masyarakat yang inovatif ini bertujuan untuk melampaui pendekatan pencegahan pasif (seperti Siskamling), menuju pemberdayaan aktif warga, sehingga mereka memiliki kemampuan fisik dan mental untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat ketika berada dalam situasi berbahaya. Peningkatan ketangguhan warga ini secara langsung berkorelasi dengan penurunan angka kejahatan jalanan.
Efektivitas Program self-defense ini didukung oleh filosofi bahwa pertahanan terbaik dimulai dari kesadaran. Pelatihan ini bukan hanya mengajarkan teknik menangkis atau meloloskan diri, tetapi juga menekankan pentingnya Mengenali Gejala Awal potensi ancaman dan meningkatkan kewaspadaan situasional. Polisi mengajarkan peserta cara berpikir seperti pelaku kejahatan, menganalisis lingkungan yang berpotensi membahayakan, dan teknik de-eskalasi verbal untuk menghindari konfrontasi fisik. Dengan Pendekatan Humanis Polisi, instruktur dari Satuan Sabhara memberikan materi yang disesuaikan dengan skenario yang paling sering terjadi di lingkungan warga, seperti penjambretan di lampu merah atau perampokan di area parkir sepi.
Program Pembinaan Masyarakat ini biasanya diselenggarakan secara berkala di tingkat Rukun Warga (RW) dan terbuka untuk umum, khususnya wanita dan lansia yang sering menjadi target empuk pelaku kejahatan. Sebagai contoh, di Balai Warga RW 10 Kelurahan Cempaka Putih, Jakarta, telah dilaksanakan Pelatihan Self-Defense Dasar selama dua hari penuh, yaitu pada hari Sabtu dan Minggu, 14-15 September 2024. Pelatihan ini dipimpin langsung oleh Aiptu Rahmat Hidayat, seorang anggota Sabhara yang juga memiliki keahlian dalam ilmu bela diri Polri. Materi yang ditekankan antara lain teknik kunci pergelangan tangan sederhana, cara melepaskan diri dari cekikan, dan cara menggunakan barang sehari-hari (seperti kunci atau tas) sebagai alat pertahanan diri.
Dampak positif dari Program Pembinaan Masyarakat ini meluas hingga ke psikologi warga. Peserta melaporkan peningkatan rasa percaya diri dan berkurangnya kecemasan saat berjalan sendirian di malam hari. Selain itu, pelatihan ini juga memicu semangat kebersamaan dan solidaritas antarwarga. Dengan memperkuat ketangguhan individu, Polri secara tidak langsung mengurangi beban Patroli Malam dan penindakan. Tugas lapangan kepolisian Indonesia melalui program ini telah bertransformasi dari sekadar menjaga ketertiban menjadi memberdayakan masyarakat agar mampu menjadi bagian dari sistem keamanan itu sendiri. Inilah contoh terbaik dari kolaborasi antara aparat dan masyarakat sipil untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.
