Pela Gandong 2026: Musyawarah Ambon Perkuat Damai Lewat Budaya

Ambon memiliki warisan luhur dalam menjaga harmoni sosial melalui ikatan persaudaraan yang dikenal sebagai “Pela Gandong”. Di tahun 2026 ini, semangat Perkuat Damai Lewat Budaya kembali digaungkan sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan persatuan di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Melalui musyawarah besar, para pemuka adat, pemuda, dan pemerintah daerah berkomitmen untuk merevitalisasi nilai-nilai persaudaraan antar negeri (desa) tanpa memandang perbedaan keyakinan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa perdamaian yang telah terbina selama puluhan tahun tetap kokoh dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif di ruang digital.

Salah satu fokus utama dalam agenda Perkuat Damai Lewat Budaya ini adalah melibatkan generasi muda dalam pelestarian tradisi lisan dan upacara adat Pela. Penanaman nilai-nilai toleransi sejak dini sangat krusial agar anak cucu Maluku memahami bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus dijaga, bukan alasan untuk berselisih. Musyawarah ini juga mendorong penggunaan seni musik dan tari tradisional sebagai media rekonsiliasi dan komunikasi antar kelompok. Dengan menjadikan budaya sebagai bahasa pemersatu, Ambon mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kearifan lokal adalah instrumen perdamaian yang paling efektif dan otentik dalam menyelesaikan konflik sosial.

Selain aspek simbolis, misi Perkuat Damai Lewat Budaya juga diwujudkan dalam bentuk kerja sama ekonomi antar desa yang terikat hubungan Pela. Misalnya, desa pesisir dan desa pegunungan dapat saling bertukar hasil bumi dengan sistem yang adil dan saling menguntungkan. Hal ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tetapi juga mempererat jalinan silaturahmi antar warga secara nyata. Pemerintah daerah mendukung inisiatif ini dengan memperbaiki akses infrastruktur penghubung antar wilayah agar interaksi sosial dan ekonomi warga semakin lancar. Perdamaian yang didasarkan pada kesejahteraan bersama akan jauh lebih langgeng dan sulit untuk digoyahkan oleh kepentingan politik sesaat.

Dialog yang terjalin dalam program Perkuat Damai Lewat Budaya juga mencakup upaya penanganan berita bohong atau hoax yang sering kali menyasar sentimen identitas. Masyarakat diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan mengedepankan klarifikasi melalui tokoh adat sebelum bereaksi terhadap isu yang berkembang. Dengan sistem pertahanan sosial yang berbasis pada kearifan lokal, Ambon menjadi kota yang tangguh dalam menghadapi tantangan disintegrasi. Musyawarah ini membuktikan bahwa budaya bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan dalam berperilaku dan menjaga kedamaian di tengah keberagaman yang sangat kental di wilayah Maluku.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa