Kepulauan Maluku, dengan Ambon sebagai pusatnya, merupakan wilayah yang dikelilingi oleh laut dalam dan memiliki karakteristik geofisika yang sangat dinamis. Sebagai daerah yang rawan terhadap bencana maritim seperti gelombang pasang, rob, hingga potensi tsunami, diperlukan tingkat kesiapsiagaan yang tinggi dari seluruh elemen masyarakat. Menanggapi kondisi tersebut, institusi kepolisian setempat meluncurkan inisiatif edukatif yang dikenal dengan nama Literasi Gelombang. Program ini dirancang untuk membekali warga yang tinggal di garis pantai dengan pengetahuan mendalam mengenai perilaku laut dan bagaimana merespons tanda-tanda alam sebelum bencana terjadi.
Program inovatif dari Polres Ambon ini menyasar komunitas nelayan dan keluarga yang bermukim di pesisir. Literasi di sini bukan sekadar membaca teks, melainkan kemampuan untuk “membaca” gejala alam melalui pemahaman sains sederhana yang dipadukan dengan kearifan lokal. Petugas kepolisian dari satuan Polairud (Polisi Perairan dan Udara) secara rutin mengunjungi desa-desa untuk melakukan sosialisasi mengenai perubahan pola arus, kenaikan permukaan air laut, hingga deteksi dini getaran bumi yang dapat memicu gelombang besar. Pengetahuan ini sangat vital agar masyarakat tidak panik dan tahu persis ke mana mereka harus mengevakuasi diri saat situasi darurat muncul.
Tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk siagakan desa pesisir agar memiliki kemandirian dalam manajemen bencana berbasis komunitas. Polres Ambon membantu setiap desa untuk memetakan jalur evakuasi yang paling aman dan menetapkan titik kumpul di dataran yang lebih tinggi. Selain itu, kepolisian juga memberikan pelatihan komunikasi darurat menggunakan alat-alat sederhana yang tetap bisa berfungsi saat jaringan telekomunikasi terputus. Dengan sistem kesiapsiagaan yang terstruktur, risiko jatuhnya korban jiwa saat terjadi anomali cuaca atau gelombang ekstrem dapat diminimalisir secara signifikan.
Dalam pelaksanaan program ini, Polres Ambon mengedepankan pendekatan yang humanis dan kolaboratif. Mereka melibatkan para tetua adat atau “Raja” di setiap negeri (desa) untuk memastikan pesan keselamatan ini dapat diterima dengan baik oleh seluruh warga. Pemahaman mengenai karakteristik gelombang juga mencakup edukasi tentang pelestarian ekosistem pesisir seperti hutan mangrove dan terumbu karang. Masyarakat diajak untuk memahami bahwa benteng alami berupa tanaman bakau adalah pertahanan pertama yang paling efektif untuk memecah kekuatan gelombang sebelum mencapai pemukiman penduduk.
