Stabilitas keamanan di wilayah Maluku terus diuji oleh berbagai dinamika sosial yang berakar pada masalah-masalah lokal yang belum sepenuhnya terselesaikan secara mendalam. Fenomena mengenai konflik antar kampung di Ambon menjadi tantangan berat bagi upaya pembangunan kedamaian yang berkelanjutan. Meskipun banyak inisiatif rekonsiliasi telah dilakukan pasca-peristiwa besar di masa lalu, namun gesekan-gesekan kecil yang dipicu oleh masalah sepele seperti perselisihan pemuda atau sengketa batas lahan seringkali dengan cepat membesar menjadi bentrokan fisik yang melibatkan kelompok massa yang lebih luas. Hal ini menunjukkan masih adanya sisa trauma dan sensitivitas tinggi yang tertanam dalam struktur masyarakat.
Masalah konflik antar kampung ini sangat merugikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan kenyamanan hidup warga sehari-hari. Setiap kali bentrokan terjadi, roda transportasi terhenti, aktivitas perdagangan di pasar terganggu, dan ketakutan kembali menghantui anak-anak yang ingin bersekolah. Aparat kepolisian seringkali harus bekerja ekstra keras untuk menyekat perbatasan wilayah agar pertikaian tidak meluas ke area sekitarnya. Namun, pendekatan keamanan saja tidak cukup untuk memutus rantai kekerasan ini jika akar permasalahan sosial dan ekonomi di tingkat akar rumput tidak diselesaikan dengan pendekatan budaya yang lebih menyentuh hati masyarakat.
Pemerintah daerah bersama tokoh adat dan tokoh agama perlu melakukan dialog yang lebih intensif untuk memperkuat kembali nilai-nilai kearifan lokal seperti “Pela Gandong” yang terbukti ampuh menyatukan warga. Isu mengenai konflik antar kampung harus diredam melalui program-program yang melibatkan interaksi positif antarwarga secara rutin, seperti kompetisi olahraga atau kegiatan ekonomi kreatif bersama. Pembangunan infrastruktur di perbatasan kampung juga harus dilakukan secara adil agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Menghadirkan kesejahteraan yang merata adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi potensi gesekan antar kelompok di dalam kota Ambon.
Peran media sosial juga harus diawasi dengan bijak, karena penyebaran informasi palsu atau provokasi seringkali menjadi bensin yang menyulut api konflik antar kampung menjadi lebih besar. Edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya menyaring informasi dan menjaga perdamaian sangatlah krusial. Pemuda harus dijadikan pelopor kedamaian, bukan justru menjadi penggerak utama dalam setiap bentrokan. Jika energi besar para pemuda dialihkan pada kegiatan yang membangun daerah, maka potensi keributan akan hilang dengan sendirinya. Kedamaian adalah investasi terpenting bagi masa depan Maluku agar tetap menjadi tempat yang nyaman bagi siapa pun.
