Menembus Badai: Kisah Heroik Unit Polisi Udara dalam Operasi SAR di Laut

Ketika musibah terjadi di laut, baik itu kapal tenggelam maupun kecelakaan lain, waktu menjadi faktor penentu antara hidup dan mati. Di tengah ombak yang ganas dan angin kencang, tim dari Unit Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) menjadi harapan terakhir. Operasi penyelamatan mereka adalah kisah heroik yang menguji batas kemampuan, keberanian, dan profesionalisme. Setiap kisah heroik ini adalah cerminan dari pengabdian tanpa batas. Misi mereka tidak hanya tentang menemukan korban, tetapi juga kisah heroik tentang perjuangan melawan alam demi satu nyawa.

Pada tanggal 20 Juli 2025, pukul 05.00 WIB, tim Polairud menerima laporan darurat tentang sebuah kapal nelayan yang tenggelam akibat badai di perairan utara. Tiga nelayan dilaporkan hilang. Kapal patroli dan tim penyelam segera dikerahkan, namun kondisi cuaca yang ekstrem membuat pencarian via laut sangat sulit. Pukul 07.30 WIB, helikopter Bell 412EP milik Polairud diberangkatkan dari pangkalan udara. Pilot helikopter, AKP Rudi Hidayat, S.I.K., dan tim penyelamat udara, termasuk Kompol Sigit Wibowo, S.H., M.H., harus menghadapi visibilitas yang buruk dan angin kencang. Misi ini sangat berisiko, namun tim tetap fokus dan profesional.

Setelah dua jam terbang menembus badai, tim penyelamat udara berhasil menemukan dua nelayan yang mengapung di atas puing-puing kapal. Kedua nelayan tersebut dalam kondisi lemah dan kedinginan. Kompol Sigit Wibowo, seorang penyelam berpengalaman, segera bersiap untuk diturunkan ke laut dengan tali hoist (winch). Proses ini sangat sulit karena helikopter harus mempertahankan posisi yang stabil di atas ombak yang bergejolak. Dengan keberanian dan ketenangan, Kompol Sigit berhasil mencapai kedua nelayan. Ia dengan cepat memasang harness pada mereka dan memberi kode kepada pilot untuk mengangkatnya. Kedua nelayan berhasil diangkat dengan selamat ke dalam helikopter.

Namun, misi belum selesai. Masih ada satu nelayan lagi yang belum ditemukan. Tim Polairud terus melakukan pencarian di sekitar lokasi. Setelah 30 menit pencarian, mereka akhirnya menemukan nelayan ketiga yang berpegangan pada sebuah drum plastik. Kali ini, cuaca semakin memburuk. Meskipun menghadapi risiko tinggi, tim kembali melakukan prosedur penyelamatan yang sama. Nelayan ketiga pun berhasil diangkat ke dalam helikopter dalam kondisi selamat, meskipun kritis. Pukul 11.30 WIB, helikopter berhasil mendarat kembali di pangkalan, dan ketiga nelayan segera dilarikan ke rumah sakit. Kisah ini adalah bukti nyata bahwa di tengah bencana, ada kisah heroik yang mendedikasikan hidup mereka untuk melindungi dan menyelamatkan sesama. Operasi Polairud ini menjadi cerminan dari kesiapsiagaan dan profesionalisme yang luar biasa.